default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Fadli Zon Nilai Karhutla di Riau-Kalimantan, Membuat Produk Sawit Sulit Diterima Dunia

Fadli Zon Nilai Karhutla di Riau-Kalimantan, Membuat Produk Sawit Sulit Diterima Dunia
Peristiwa Nasional
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Fadli Zon
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JAKARTA- Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Fadli Zon menilai masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau dan Kalimantan akan membuat produk sawit RI makin sulit diterima di dunia, khususnya Uni Eropa yang gencar menolak produk sawit Indonesia karena diselimuti sentimen negatif.

"Tanpa adanya perbaikan yang drastis, produk sawit kita akan semakin ditolak dunia," kata Fadli Zon melalui akun Twitter-nya sebagaimana terpantau suara Indonesia,Kamis (19/9/2019).

Pasalnya kondisi itu memberikan banyak dampak negatif. Menurutnya, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menjadi permasalahan besar yang disoroti.

"Bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini sedang terjadi tak ubahnya seperti lemparan kotoran bagi para diplomat kita yang sedang berjuang meyakinkan Uni Eropa dan juga WTO (World Trade Organization) untuk mendukung produk sawit Indonesia," lanjutnya.

Dia mengatakan bencana karhutla merupakan gambaran buruk bagi perjuangan diplomasi dagang Indonesia.

Dia menjelaskan bagaimana Indonesia bisa merayu negara-negara Eropa untuk terus membuka pasarnya bagi produk sawit Indonesia.

Fadli mengatakan ketika pada saat bersamaan semua tuduhan mereka atas perkebunan sawit Indonesia yang merusak lingkungan, melakukan deforestasi justru terkonfirmasi dari bencana karhutla.

"Malah dikonfirmasi oleh bencana karhutla yang 99% akibat ulah manusia dan terus menerus terjadi?," ujarnya.

Fadli memaparkan sejak awal tahun 28 negara Uni Eropa sepakat memasukkan minyak sawit Indonesia sebagai kategori tidak berkelanjutan. Sehingga, mereka tidak akan menggunakannya sebagai bahan baku biodiesel.

"Mereka menyoroti masalah deforestasi akibat adanya budidaya sawit yg masif. Mulai 2030, Uni Eropa akan melarang total konsumsi sawit Indonesia. Artinya, sebelum itu mereka akan mulai mengurangi konsumsi sawit asal Indonesia," tutupnya.


Kontributor : Anas
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar