SURABAYA - Suro merupakan bulan yang dianggap sakral dan suci bagi kebanyakan masyarakat Jawa, khususnya di kalangan Kejawen.
Sosok di balik penerbitan bulan Suro sebagai Kalender Jawa, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kerajaan Mataram Islam.
Sultan Agung atau Susuhunan Agung secara harfiah berarti "Sultan Besar" atau Yang Dipertuan Agung".
Sultan Agung menetapkan bulan Suro pada 1633 Masehi, saat itu kerajaan mengadakan acara syukuran besar-besaran.
Melansir dari Wikipedia, Sultan Agung lahir pada 1593 Masehi dari pasangan Anykrawati (Ayah) dan Dyah Banawati (Ibu). Ia naik takhta pada 1613 hingga 1645 Masehi. Di tahun itu pula dirinya wafat.
Selama memimpin Kerajaan Mataram, dirinya sangat dihormati dan disegani masyarakat karena kebijaksanaan yang dimiliki.
Ia juga dikenal sebagai pejuang yang senantiasa membela tanah air. Banyak warisan tradisi atau budaya yang ia sumbangkan untuk bangsa.
Tak heran apabila Sultan Agung dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No.106/TK/1975 pada 3 November 1975.
Sosok Sultan Agung begitu luar biasa. Bukan hanya seorang Sultan, tapi juga menyandang senapati ing ngalaga (Panglima Perang).
Ia memiliki keterampilan yang cukup hebat dalam memimpin kerajaannya. Melalui kepiawaian konsolidasinya itu lah dapat membangun kekuatan teritorial dan militer yang besar.
Sultan Agung memiliki jasa sangat besar dalam penyebaran Islam kala itu. Ia disegani karena menyebarkan Islam tanpa menghilangkan tradisi Jawa.
Tradisi peringatan malam satu Suro memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat muslim, khususnya bagi masyarakat Jawa.
Satu Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, atau sebagai awal bulan pertama Tahun Baru Jawa.
Dengan terbitnya bulan Suro menjadi keinginan atau impian besar Sultan Agung agar dapat menyatukan masyarakat di semenanjung Jawa.
Hingga kini, masyarakat Jawa masih mempercayai kesakralan peringatan bulan Suro. Karena itu, banyak masyarakat melakukan berbagai ritual kepercayaan masing-masing.
Adapun ritual yang sering dilakukan di malam satu Suro seperti mencuci benda Pusaka serta Kirab Kebo Bule.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Lukman Hadi |
| Editor | : |
Komentar & Reaksi