SUARA INDONESIA SURABAYA

Inspiratif! Kisah Desainer Johan Arif Pekerjakan Penyandang Disabilitas

Lukman Hadi - 19 March 2023 | 17:03 - Dibaca 2.37k kali
Features Inspiratif! Kisah Desainer Johan Arif Pekerjakan Penyandang Disabilitas
Desainer asal Malang, Johan Arif ketika di acara channel YouTube Judes Indonesia.

SURABAYA - Muhammad Maarif, pria asal Malang membuktikan kepada orang-orang bahwa dirinya mampu merintis usaha fashion buah hasil karya sendiri.

Pria lebih dikenal dengan nama Johan Arif di dunia desainer fashion spesialis gaun pesta ini mulai hobi menjahit sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Bermula hobi menjahit akhirnya Johan Arif memliki ambisi untuk mendirikan usaha rumah produksi gaun ketika dewasa kelak.

"Awal ceritanya itu Saya mulai dari SD kelas 4 itu Saya punya cita-cita. Jadi, ingin menjadi penjahit yang top," ujar Johan Arif saat ditemui di rumah produksinya di Jalan Kalijudan Madya Gang 6 Nomor 12, Surabaya, Kamis (16/3/2023).

Mimpi Johan Arif itu kini terwujud. Meski tempat usahanya tidak sebesar desainer kondang lainnya, setidaknya cita-cita sedari kecil mampu digenggam.

Ia menceritakan, usahanya mulai dirintis sejak sekitar tahun 1992 silam. Sudah puluhan tahun berjuang, kini ia mempunyai 2 rumah produksi di Malang dan Surabaya.

Hasil yang ia raih sekarang bukan tiba-tiba terbentuk seperti sulap. Pada tahun 1990 dirinya mengikuti semacam pelatihan desain di Malang. Walaupun pada dasarnya keahlian menjahit ia dapati secara otodidak (autodidak).

Di tempat itu, ia banyak menyerap ilmu mengenai teknik menjahit. Ia mempelajari bagaimana cara merancang gaun pengantin dan gaun pesta.

"Saya gak puas dari situ. Saya pergi ke Surabaya tahun 1992 untuk bekerja dan meningkatkan hasil karya (menjahit)," kata dia.

Ia mengaku, banyak lika-liku tajam selama proses menuju kesuksesan. Cobaan Johan Arif paling terasa ialah persoalan modal. Bagaimana jadinya membuka bisnis tanpa sokongan modal. Namun, semua berhasil dilewatinya dengan segala kegigihan dan perjuangan keras.

"Awalnya memang berat sekali, ya. Saya itu termasuk orang yang tidak punya modal. Dan saya anti untuk hutang-piutang. Jadi, Saya harus punya uang sendiri untuk bangkit. Mula hanya satu mesin (jahit), dua mesin, satu pegawai, dua pegawai. Sampai Saya merangkak menjadi lebih besar seperti sekarang," bebernya sambil mengenang perjuangan masa lalu.

Banyak pesanan dari luar Jawa hingga Mancanegara


Joan Arif mengaku banyak mendapat pesanan untuk merancang gaun customer dari luar Jawa hingga mancanegara. Kebanyakan pemesan meminta dirinya untuk dibuatkan desain gaun yang akan dipakai menghadiri pesta atau pernikahan.

Ia tidak menutupi kenyataan apabila customer di tempatnya rata-rata kelas menengah ke atas. Banyak keluarga konglomerat serta bos perusahaan minta dibuatkan gaun yang indah dan elegan.

"Pangsa pasar Saya itu sudah merambah sampai luar negeri. Ada Malaysia, Singapura ada, Amerika ada, Brunei juga ada. Kalau lokal itu Manado, Samarinda, ada lagi Banjarmasin, ada di Makassar," jelasnya detail.

Banyaknya pemesan dari luar Jawa membuatnya merasa bangga karena hasil karya dari keahliannya dapat diterima dan diapresiasi khalayak umum. Pun hasil rancangannya cukup bagus dan dijamin memuaskan.

Ia katakan, biasanya customer yang akan mempercayai dirinya untuk merancang gaun hanya mengirim bahan kain saja. Barang dikirim ke tempatnya, kemudian ia diminta membuat desain dan barulah membuat gaun sesuai keinginan customer.

Mayoritas pegawai penyandang disabilitas


Salah satu faktor kesuksesan Johan Arif di dunia desain fashion tak terlepas dari keputusan bijaknya dengan mempekerjakan mayoritas penyandang disabilitas sebagai pegawainya.

Ia telah merekrut penyandang disabilitas sejak puluhan tahun lamanya. Keputusan tersebut sudah menjadi komitmen dirinya untuk mengangkat derajat mereka. Yang mana kita tahu, orang-orang disabilitas selalu dipandang sepele. Setidaknya begitu penuturan Johan Arif.

"Saya dari dulu ingin 90 persen itu pegawai Saya memang disabilitas. Yang lain boleh sempurna untuk penguat," tuturnya.

Hingga saat ini ia mempunyai 6 (enam) pegawai disabilitas. Ia merekrut semuanya dari panti rehabilitasi di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

"Ini ada 6 (enam) disabilitas. Kadang-kadang ada dari luar saya panggil untuk freelance," ujarnya.

Adapun sebelum ia menetapkan mereka sebagai pegawai di tempat usahanya, ia lebih dulu membentuk karakter dan mental agar memiliki semangat dan kepercayaan diri sehingga tertanam rasa tanggung jawab dalam bekerja.

"Dari situ Saya gembleng terutama moral, mental supaya mereka itu betul-betul percaya diri bahwa mereka juga bisa melebihi dari (orang-orang) yang sempurna," bebernya.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Lukman Hadi
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya